Rabu, 11 November 2015

EVOLUSI AGAMA

EVOLUSI  AGAMA
Inten Cahya (PAI B)
Abstrak
Terdapat perbedaan bahkan perdebatan mendasar ketika agama disebut-sebut sebagai fakta dari kebudayaan manusia. agama kerap dipersepsi sebagai kebenaran tunggal yang datang dari Tuhan, bersifat pasti dan mutlak, pada saat yang sama fakta sejarah juga menunjukkan bahwa agama tidak dapat dilepaskan dari daya kreativitas manusia yang dengan sendirinya masuk pada wilayah budaya. Tujuan untuk memaparkan evolusi agama sebagai bagian dari budaya manusia yang mengalami perubahan dan perkembangan secara bertahap. Dapat disimpulkan evolusi agama sebagaimana evolusi budaya, dapat dipahami sebagai perubahan secara bertahap yang dialami dalam setiap agama. Perubahan tersebut menjadi niscaya, mengingat agama merupakan unsur sentral dari kebudayaan itu sendiri. Peran agama yaitu untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau berperadaban Islam.

Kata kunci: Evolusi, Agama, Biologis, Mahluk hidup,Al-Qur’an.

A.                Pendahuluan
1.      Latar Belakang Masalah
Terdapat perbedaan bahkan perdebatan mendasar ketika agama disebut-sebut sebagai fakta dari kebudayaan manusia. Perbedaan yang kemudian melahirkan perdebatan ini pada prinsipnya bukan sesuatu yang baru, akan tetapi telah menjadi perdebatan klasik yang sejak lama dibincangkan banyak kalangan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama kerap dipersepsi sebagai kebenaran tunggal yang datang dari Tuhan, bersifat pasti dan mutlak, pada saat yang sama fakta sejarah juga menunjukkan bahwa agama tidak dapat dilepaskan dari daya kreativitas manusia yang dengan sendirinya masuk pada wilayah budaya.
Untuk membicarakan ”Evolusi Agama” terlebih dahulu perlu disepakati bahwa agama merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Sebab, berbicara mengenai evolusi berarti membicarakan sebuah organisme yang mengalami perubahan dari bentuknya yang paling sederhana menuju bentuk yang kompleks karena pengaruh-pengaruh tertentu. Dengan demikian, evolusi agama hanya dapat dibicarakan dalam konteks budaya kerena budaya, termasuk di dalamnya agama, senantiasa mengalami evolusi yang dipengaruhi oleh tuntutan alamiyah dalam kehidupan manusia.
Tujuan untuk memaparkan evolusi agama sebagai bagian dari budaya manusia yang mengalami perubahan dan perkembangan secara bertahap. Problem yang kemudian muncul untuk membatasi kajian pada pemaparan adalah ketergantungannya pada kajian antropologi di satu sisi, sementara di sisi dapat menjelaskan evolusi agama dalam kaitannya dengan ranah pengetahuan sosiologi.         Namun demikian, kajian antropologi sosial (generalizing approach) yang masuk cabang etnologi pada rumpun ilmu antropologi agaknya memberikan ruang bagi bahasan sosiologi untuk dapat bersentuhan dengan ilmu tersebut.[1] Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kajian sosiologi, pada tahap-tahap tertentu tidak dapat dilepaskan dengan pendekatan terhadap ilmu antropologi.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan “Bagaimana evolusi agama bisa terjadi?”
3.      Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah untuk menjelaskan proses terjadinya evolusi agama.
B.     Pembahasan
1.      Konsep Evolusi
a.       Konsep Evolusi Secara Umum
Kata Evolusi berasal dari bahasa latin evolution yang salah satu artinya adalah perkembangan.[2] Pandangan lain menyebutkan bahwa kata evolusi pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Spencer. Pandangan tentang evolusi secara umum mengandung makna rasisme “yang kuat akan bantahan”.[3] Konsep evolusi yang dikemukakan belum berkaitan langsung atau belum spesifik memaknai proses evolusi makhluk hidup.
b.      Konsep Evolusi Secara Khusus
Konsep evolusi secara khusus ini dimaksudkan untuk menjelaskan kata evolusi dalam ilmu biologi. Evolusi makhluk hidup dapat didefiniskan sebagai perubahan pada makhluk hidup seiring berjalannya waktu. Tiga kata kunci dalam devinisi evolusi disini adalah perubahan, mahluk dan waktu. Evolusi memiliki dimensi yang sangat luas, sehingga memerlukan pengetahuan berbagai bidang yaitu biologi, genetika, antropologi, biologis, antropologi cultural, biokimia, fisika, anatomi dan botani. Makna evolusi adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh mahluk hidup sekarang berasal dari mahluk hidup zaman dahulu atau perubahan secara bertahap sehingga menghasilkan spesies baru.
Sintesis :
Dapat disimpulkan bahwa evolusi memiliki 2 konsep yakni secara umum dan khusus. Secara umum dapat dikatakan bahwa evolusi bukan hanya digunakan dalam bidang biologi saja namun secara keseluruhan namun belum begitu memaknai secara spesifik tentang mahluk hidup. Kemudian yang secara khusus, dapat dikatakan bahwa evolusi sudah di khususkan yaitu untuk ilmu biologi. Pada konsep ini evolusi sudah lebih spesifik mengenai mahluk hidup, bahwa mahluk hidup berasal dari nenek moyang terdahulu.
2.      Pengertian Agama
a.       Menurut Bahasa dan Istilah
Dalam bahasa Arab agama berasal dari kata Ad-din, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, dan kebiasaan. Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Oxford Student dictionary mendefenisikan bahwa agama adalah suatu kepercayaan akan keberadaan suatu kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta.
b.      Menurut Para Ahli
Nasution menyatakan bahwa agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari salah satu kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
Michel Meyer berpendapat bahwa agama adalah sekumpulan kepercayaan dan pengajaran-pengajaran yang mengarahkan kita dalam tingkah laku kita terhadap Allah swt, terhadap sesama manusia dan terhadap diri kita sendiri.
Menurut Uyun, agama sangat mendorong pemeluknya untuk berperilaku baik dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya serta giat berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.
Sintesis :
Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agama adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama yang berguna dalam mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Untuk menuju kearah yang lebih baik ini, harus dibarengi dengan kekuatan hati, karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan lebih baik lagi.
3.      Proses Evolusi Agama
Ada sebuah ungkapan "tingkat perkembangan agama dan kepercayaan di suatu masyarakat dipengaruhi oleh tingkat perkembangan peradaban masyarakat tersebut."[4] Ungkapan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa agama tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia yang secara langsung mempengaruhi proses evolusi agama. Oleh karenanya, proses evolusi agama sesungguhnya dimulai ketika manusia mengenal agama.[5] Dadang Kahmad menyebutkan, tingkat paling dasar dari evolusi agama adalah ketika manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Pandangan ini dikemukakan oleh E. B Taylor sebagai tokoh yang memperkenalkan "teori jiwa" sebagai salah satu teori asal mula manusia beragama. Dalam teori ini disebutkan, agama yang paling awal datang bersamaan dengan pertama kali manusia mengetahui bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh makhluk materi, tetapi juga makhluk immateri yang disebut jiwa (anima).
E. B. Taylor berpendapat, agama muncul dari kesadaran manusia akan adanya roh atau jiwa, keyakinan ini disebutnya animisme.[6]
Stephen K. Sanderson menegatakan bahwa kajian ilmiah tentang evolusi agama telah tertinggal jauh di belakang kajian mengenai evolusi berbagai ciri kehidupan sosial  budaya lainnya.[7] Sanderson menyebutkan, skema evolusi agama ke dalam lima tahap, yaitu: primitif, purbakala, historis, modern awal, dan modern.
Sintesis :
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses evolusi dipengaruhi oleh perkembangan agama. Maka teori evolusi dimulai setelah manusia mengenal agama. Tingkatan paling dasar dari evolusi agama ialah ketika manusia menyadari keadaan makhluk ghaib disekelilingnya. Skema evolusi dibagi menjadi lima tahap yaitu primitif, purbakala, historis, modern awal dan modern. Dapat dikatakan tahap evolusi agama dimulai dari zaman yang masih memanfaatkan alam sampai zaman yang sudah mulai mengalami globalisasi/berkembang.
4.      Evolusi dalam Pandangan Agama
Teori ilmiah apa pun sesungguhnya tidak dapat meniadakan Tuhan.[8] Beberapa penafskan ateistik atas teori ilmiah merupakan bentuk dari "saintisme", yaitu keyakinan bahwa hanya sainslah satu-satunya cara untuk mengetahui. Saintisme memandang bahwa hanya alam (material) satu-satunya realitas yang ada, dan segala hal yang tidak dapat dijangkau sains adalah ilusi.[9] Penafsiran demikian keliru karena melampaui hal-hal yang dapat dijelaskan sains.[10] Sebaliknya teori ilmiah tidak dapat begitu saja menghasilkan simpulan-simpulan keagamaan, karena kebenaran ilmiah adalah relatif dan bersandar pada asumsi-asumsi dasar serta bergantung pada teori yang ada. Agama (wahyu) merupakan petunjuk bagi umat manusia, kebenarannya bersifat mudak. Keyakinan keagamaan dengan sendirinya tidak membutuhkan dukungan dari ataupun perlu mendukung teori ilmiah apa pun. Sejarah pertentangan gereja dengan dengan saintis seharusnya menjadi pelajaran berharga dalam melihat hubungan sains dan agama.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa observasi, penyelidikan dan perenungan terhadap alam akan membangkitkan suatu perasaan kekaguman dan ketakjuban tertentu. Semua ilmuwan, baik ateis maupun teis, bahkan orang awam sekalipun, menyadari keteraturan dan harmonisasi alam. Alam memperagakan berbagai fenomena yang indah mempesonakan, yaitu keragaman, keserupaan, simetri, keteraturan, kelestarian nisbi dan kejadian-kejadian yang bersifat probabilistik. Lebih jauh lagi temuan-temuan sains telah dapat menunjukkan kesatuan alam semesta, yaitu kesalinghubungan seluruh bagian dan aspek-aspeknya. Seorang yang memilih berpaham ateis hanya akan berhenti pada
kesadaran akan harmoni, keteraturan dan kesatuan alam. Mereka tidak dapat menyadari makna di baiik semua itu. Kejadian alam dianggap semata-mata masalah probabilistik yang ada dan mengada dengan sendirinya, tanpa arah dan tujuan.
Tidak mengherankan kalau seorang fisikawan ateis terkemuka, Steven Weinberg, mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk dengan pikiran sadar yang hidup di alam yang penuh kesia-siaan dan kehampaan makna. Baginya sains merupakan pelipur lara di tengah alam maha luas yang tak bertujuan. Bagi orang beriman semua hal tersebut mempunyai makna religius dan merupakan simbol dari adanya realitas tertinffi, yaitu Allah, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur'an. Dalam bahasa al-Qur'an alam dikatakan mengandung dalam dirinya jejak-jejak Tuhan. Fenomena alam disebut sebagai ayat (tanda-tanda) Tuhan.[11] Al Qur'an adalah kitab hidayah yang memberikan keterangan kepada manusia tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan akidah, syariah dan akhlak untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Al- Qur'an bukanlah kitab suci yang mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Teori-teori ilmiah yang ada tidak dapat dibenarkan atau disalahkan begitu saja berdasar ayat-ayat al-Qur'an. Pada dasarnya ayat-ayat al-Qur'an tidak membahas teori-teori ilmiah tersebut secara detail, meskipun terdapat beberapa ayat yang menyinggung secara sepintas teoriteori ilmiah yang belum ditemukan atau diketahui manusia pada masa turunnya al-Qur'an. Setiap muslirn wajib mempercayai segala sesuatu yang terdapat di dalam al-Qur'an.
Namun demikian, dia tidak dapat memaksa orang untuk membenarkan atau menolak suatu teori ilmiah berdasar al-Quran. Apabila hal ini dilakukan, konsekuensinya seseorang akan menerima atau menolak suatu teori ilmiah sebagai bagian dari suatu aqidah al-Qur’an. Hal tersebut juga terjadi pada teori evolusi, dimana sebagian ilmuwan muslim mengingkari teori evolusi dengan beberapa ayat al-Qur’an dan sebagian lagi membenarkan dengan ayat al-Qur’an pula. Ada beberapa muslim yang mencoba membenarkan teori evolusi dengan ayat-ayat al-Qur’an seperti:
"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian" (QS Nuh : 13-14).

            Mereka menafsirkan fase-fase tersebut adalah sesuai dengan fase-fase yang diakui oleh penganut teori evolusi Darwin tentang proses kejadian manusia. Selain itu ayat:
“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi " (QS Ar Ra'd : 17)

digunakan sebagai penguat kebenaran teori "'struggle for life" yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
Di luar pertanyaan di atas, sebenarnya lima abad sebelum munculnya teori evolusi Darwin (1804-1872) telah ada seorang ilmuwan muslim yang menuliskan pendapatnya tentang evolusi. Ilmuwan muslim tersebut adalah 'Abdurrahman Ibn Khaldun (1332-1446) yang menulis dalam kitabnya Kitab al-'Ibarft Daiivani al-Mubtada'a al- Khabari sebagai berikut,
"Alam binatang meluas sehingga bermacammacam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat memiliki dan berpikir".[12]

Yang dimaksud kera oleh 'Abdurrahman Ibn Khladun adalah sejenis makhluk yang oleh para penganut evolusionisme disebut Anthropoides. Ketika menemukan teori tersebut Ibn Khaldun dan ilmuwan-ilmuwan lainnya tidak merujuk pada ayat-ayat al-Qur'an, tetapi mereka mendasarkannya pada penyelidikan dan penelitian mereka. Ada beberapa teori ilmiah yang disebutkan dalam al-Qur'an tetapi pemaparan tersebut tidak memberikan penjelasan secara detail. Pemaparan tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan serta mendorong manusia untuk mengadakan pengamatan dan penelitian yang lebih mendalam sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan keimanan kepada Allah swt.
Sintesis :
Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa evolusi dalam pandangan agama tidak dapat begitu saja menghasilkan simpulan-simpulan keagamaan, karena kebenaran ilmiah adalah relatif dan bersandar pada dasar serta bergantung pada teori yang ada. Agama merupakan petunjuk bagi umat manusia,dan diykini kebenarannya. Namun adapula para muslim membenarkan teori evolusi dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Banyak yang berpendapat bahwa teori Darwin hampir sama dengan ayat Al-Qur’an karena ada kesamaan dalam fase-fase evolusi.
Analisis :
Evolusi adalah suatu fenomena yang muncul pada kepercayaan atau agama, agar lebih dapat diterima oleh masyarakat penganutnya, evolusi berkaitan dengan agama pula.
Dalam bahasa Arab agama berasal dari kata Ad-din, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, dan kebiasaan. Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.
Berdasarkan pendapat para ahli, bahwa agama adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan sesamanya.
Evolusi memiliki 2 konsep yakni secara umum dan khusus. Secara umum dapat dikatakan bahwa evolusi bukan hanya digunakan dalam bidang biologi saja namun secara keseluruhan tetapi belum begitu memaknai secara spesifik tentang mahluk hidup. Kemudian yang secara khusus, dapat dikatakan bahwa evolusi sudah di khususkan yaitu untuk ilmu biologi. Pada konsep ini evolusi sudah lebih spesifik mengenai mahluk hidup, bahwa mahluk hidup berasal dari zaman  terdahulu.
Proses evolusi dipengaruhi oleh perkembangan agama. Maka teori evolusi dimulai setelah manusia mengenal agama. Tingkatan paling dasar dari evolusi agama ialah ketika manusia menyadari keadaan makhluk ghaib disekelilingnya. Skema evolusi dibagi menjadi lima tahap yaitu primitif, purbakala, historis, modern awal dan modern. Dapat dikatakan tahap evolusi agama dimulai dari zaman yang masih memanfaatkan alam sampai zaman yang sudah mulai mengalami globalisasi/berkembang.
Evolusi dalam pandangan agama tidak dapat begitu saja menghasilkan simpulan-simpulan keagamaan, karena kebenaran ilmiah adalah relatif dan bersandar pada asumsi- asumsi dasar serta bergantung pada teori yang ada. Agama merupakan petunjuk bagi umat manusia, kebenarannya bersifat mudak. Keyakinan keagamaan dengan sendirinya tidak membutuhkan dukungan dari ataupun perlu mendukung teori ilmiah apa pun. Namun adapula para muslim membenarkan teori evolusi dengan ayat-ayat al-Qur’an. Al Qur'an adalah kitab hidayah yang memberikan keterangan kepada manusia tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan akidah, syariah dan akhlak untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Al- Qur'an bukanlah kitab suci yang mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Teori-teori ilmiah yang ada tidak dapat dibenarkan atau disalahkan begitu saja berdasar ayat-ayat al-Qur'an. Pada dasarnya ayat-ayat al-Qur'an tidak membahas teori-teori ilmiah tersebut secara detail, meskipun terdapat beberapa ayat yang menyinggung secara sepintas teori-teori ilmiah yang belum ditemukan atau diketahui manusia pada masa turunnya al-Qur'an. Setiap muslirn wajib mempercayai segala sesuatu yang terdapat di dalam al-Qur'an. Namun tentulah apa yang terdapat dalam al-Qur’an itulah yang terjadi di dunia ini.
C.    Simpulan
Evolusi agama sebagaimana evolusi budaya, dapat dipahami sebagai perubahan secara bertahap yang dialami dalam setiap agama. Perubahan tersebut menjadi niscaya, mengingat agama merupakan unsur sentral dari kebudayaan itu sendiri. Meskipun demikian, pandangan yang menganggap bahwa agama bukan merupakann bagian dari kebudayaan manusia menjadi penekanan yang cukup penting dalam literatur kajian sosiologi maupun kajian antropologi, akan tetapi pandangan ini dengan sendirinya menjadikan kajian evolusi agama sebagai salah satu bahasan dalam sosiologi agama hampir tidak memiliki nilai. Sebab padangan ini menganggap bahwa agama bukan merupakan bagian dari kebudayaan, meskipun tidak menafikan ada agama-agama yang dilahirkan oleh budaya, dan kebudayaan yang dilahirkan oleh agama.
Namun demikian, untuk membicarakan evolusi agama secara total, menyandarkan asumsi pada pandangan bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan manusia agaknya menjadi pilihan tepat, sebab evolusi hanya dapat diterangkan pada wilayah tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Bustanuddin Agus. 2006. Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: Rajawali Perss.
Koentjaraningrat. 1985. Antropologi Sosial. (cetakan ke 5) Jakarta: PT Dian Rakyat.
Dadang Kahmad. 2006. Sosiologi Agama. (cetakan keempat). Bandung: Remadja Rosdakarya.
Luthfi dan A. Khusnuryani. AGAMA DAN EVOLUSI: KONFLIK ATAU KOMPROMI?

Mohammad Khadafi. Kritik dan Pandangan Harun Yahya Terhadap Teori  Evolusi Manusia. http://digilib.uin-suka.ac.id/2972/1/BAB%20I,V.pdf  diunduh Jum’at, 14 November 2014 pukul 07:29 WIB




[1] Koentjaraningrat. 1985. Antropologi Sosial. (cetakan ke 5) Jakarta: PT Dian Rakyat. h.:5
[2] K Prent dan kawan-kawan, Kamus Latin-Indonesia (Semarang: Kanisius, 1969), hlm.296
[3] Keith Ward, Dan tuhan Tidak Bermain Padu, terjemahan Larasmoyo, (Bandung: Dlizam, 2003), hlm. 229-230
[4] Dadang Kahmad. 2006. Sosiologi Agama. (cetakan keempat). Bandung: Remadja Rosdakarya, h:24
[5] Dadang Kahmad – mengutip Koentjoroningrat, menyebutkan enam teori asal mula agama, yaitu:
teori jiwa, teori batas akal, teori krisis dalam hidup individu, teori kekuatan luar biasa, teori sentimen masyarakat, dan teori wahyu Tuhan
[6] Dadang Kahmad, ibid, hlm:24-5
[7] Stephen K. Sanderson. 1995. "Macrosociology". Terjemah: Farid Wajdi dan S. Menno. Sosiologi
Makro, Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial. (cetakan kedua). Jakarta: RajaGrafindo Persada,
h: 521
[8] Weisz P.B. dan Keogh R.N., the Science , p. 5
[9] R.H. Bube, Ttm, p. 165
[10] L.G. Barbour, Juru Bicara Tnhan Atitara Sains don slgama, (Bandung: Mizan,
2002), p. 61
[11] O. Bakar, Tauhid dan Sains, Esai-esai tentang Sejarah dan Fi/safat Sains Islam,
(Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), p. 78
[12] M.Q. Shihab, MembnmikanAl'Quran: Fungsidan Peran Wabju dalaraKehidupan
Mayarakat, (Bandung: Mizan, 1999), p. 48.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar