Rabu, 11 November 2015

Tafsir, Takwil dan Terjemah



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Al-qur’an sebagai landasan hukum dan sumber dari segala hukum-hukum islam dimana al-qur’an ituditurunkan kepada nabi Muhammad oleh Allah agar ia menjadi pemberi peringatan bagi semesta alam ini. Lewat perantaraan Al Qur’an Allah menggariskan untuk mahluk – mahkukNya itu satu akidah yang benar dan prinsip – prinsip ajaran yang lurus dalam ayat – ayat yang jelas dan tegas karakteristik nya.itu semua merupakan karuniaNya kepada umat manusia ,dimana Allah menetapkan bagi mereka pokok – pokok agama demi menyelamat kan akidah mereka dan menunjukkan jalan lurus yang harus mereka tempuh. Kita sebagai umat islam tentunya jelas hanya lah mengetahui sebatas hukum dari hri hasil proses pemikiran orang-orang yang sudah berijtihad, tampa mengetahui bagaimana caranya dalam berproses itu,  maka dari itu saya akan menjelaskan sedikit tentang hal-hal yanh terkandung dalam al-qr’an mengenaai muhkam dan mutasyabih yang mungkin masih kabur dikalangan para awam atau, pelajar yang masih di jenjang pertama, Berikut ini penulis akan memberikan paparan ringkas mengenai keberadaan Al Qur’an yang jelas dan tegas tidak memerlukan penjelasan lagi ( Muhkam ) dan ayat Al Qur’an yang masih samar yang memerlukan penjelasan, penta’wilan dan kadang kala kita tidak mengerti maksudnya karena hanya Allah sendiri yang tahu.kita cukup mengimani adanya saja.
Pada makalah kali ini , penulis membatasinya pada pembahasan :
Tinjauan Umum tentang Muhkam dan Mutasyabih
Perbedaan pendapat para ulama mengenai kemungkinan mengetahui ayat – ayat yang Muhkam dan Mutasyabih Macam – macam ayat Muhkam dan Mutasyabih
Penutup dan analisa penulis Makalah ini tentu bukanlah sesuatu yang sempurna, masih banyak kekurangan disana –sini , oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini. Semoga tulisan ini ada guna faedahnya bagi kelansungan pendidikan kita.



B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja sebab-sebab adanya ayat muhkamat dan mutasyabihat?
2.      Bagaimana analisa ulama’ mengenai ayat muhkamat dan mutasyabihat?
3.      Apasaja hikmah dari ayat muhkamat dan mutasyabihat?
4.      Seperti apa contoh dari ayat muhkamat dan mutasyabihat?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui sebab-sebab adanya ayat muhkamat dan mutasyabihat
2.      Untuk mengetahui analisa ulama’ mengenai ayat muhkamat dan mutasyabihat
3.      Untuk mengetahui hikmah dari ayat muhkamat dan mutasyabihat
4.      Untuk mengetahui contoh dari ayat muhkamat dan mutasyabihat


















BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN TAFSIR,TA’WIL DAN TERJEMAH
a. Pengertian Tafsir
            Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “taf’il”, berasal dari akar kata al-fasr yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan “daraba-yadribu” dan “nasara-yansuru”. Dikatakan: “fasara (asy-syai’a) yafsiru” dan “yafsuru,fasran”, dan “fasarahu”, artinya “abanahu” (menjelaskannya). Kata at-tafsir dan al-fasr mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Dalam lisalanul ‘Arab’ dinyatakan: kata “al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata “at-tafsir” berarti mennyingkapkan maksud suatu lafadz yang musykil,pelik. Dalam A-Qur’an dinyatakan (a) (tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik tafsirnya). (Al-Furqan [25]:33)
            Sebagian ulama berpendapat, kata “tafsir” (fasara) adalah kata kerja yang terbalik, berasal dari kata “safara” yang juga berarti menyingkapkan (al-kasyf).
            Menurut ar-Ragib, kata “al-fasr” dan “as-safr”, adalah dua kata yang berdekatan makna dan lafadz nya. Tetapi yang pertama untuk (menunjukan arti) menampakan (menzahirkan) makna yang maq’ul (abstrak) sedangkan yang kedua untuk menampakan benda kepada penglihatan mata.
            Tafsir menurut istilah, sebagaimana didefinisikan Abu Hayyan ialah : “ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz Al-Qur’an tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makan yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.
            Meurut az-Zarkasyi : “tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.”

b. Pengertian Takwil
            Secara bahasa berasal dari kata “aul”, yang berarti kembali ke asal. Takwil Kalam dalam istilah mempunyai dua makna:
Pertama, takwil kalam dengan pengertian sesuatu makna yang kepadanya mutakallimin (pembicara, orang pertama) mengembalikan perkataannya, atau sesuatu makna yang kepadanya suatu kalam dikembalikan. Dan kalam itu kembali dan merujuk kepada makna hakikinya yang merupakan esensi sebenarnya yang dimaksud. Kalam ada dua macam, insya’  dan ikhbar. Salah satu yang termasuk insya’ adalah amr (kalimat perintah).
            Maka ta’wilul amr
B.       SEBAB-SEBABI ADANYA AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT
Ada beberapa sebab mengapa ada istilah ayat-ayat muhkamt dan mutasyabihat Yaitu:
Secara tegas dapat dikatakan bahwa sebab adanya ayat muhkamah dan mutasyabihan itu karena Allah menjadikanya demikian itu, Allah membedakan dan memisahkan ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih, dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat, seperti firman yang artinya: dialah yang telah menurunkan al-kitab kepada kamu, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamt dan ada ayat-ayat yang mutasyabihat (Al-imron: 7)
Dari ayat itu jelaslah bahwa Allah menurunkan ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabihat, tetapi belum jelas apa sebab-sebab turunya ayat-ayat tersebut.
Menurut sebagian ulama’ sebab-sebab dari turunya ayat tersebut adalah arena kebanyakan tertib dan susunan dari ayat-ayat Al-qur’an itu urut dan rapi, sehingga dapt di fahami umat islam dengan mudah, tidak menylitkan dan tidak samar artinyadi sebabkan kebanyakan maknanya juga mudah di cerna oleh akal fikiran,
Secara garis besar dapat di jelaskan bahwa sebab-sebab adnya ayat mutasyabihat dalam al-qur’an adalah karena adanya kesamaran maksud syarat dalama ayat-ayatnya, sehingga sulit di fahami umat, tampa di katakana dengan arti ayat yang lain di sebabkan karena bias di takwilkan dengan bermacam-macam dan petunjuknya pun tidak tegas,katrena sebagian besar merupakan hal-hal yang pengetahuannya hanya di monopoli oleh AllahSWT saja.

C.      HIKMAH DARI ADANYA AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT
Dalam pembahasan ini perlu di jelaskan faidah ayat-ayat dari ayat muhkamat dan nmutasabiyat lebih dahulu sebelum menerngkan hikmah atau ayat-ayuat mutasyabihat
1.      Hikmah ayat muhkamat
Adanya ayat-ayat muhkamat dalam kitab al-qr’an jelas ada hikmahnya bagi umat manusia sebagai berikut:
a.       Menjadi rahmat bagi manusia khususnya yang kemampuan bhs arabnya lemah dengan adannya ya ayat-ayat muhkamt yang sudah jelas arti maksudnya sangat besar arti dan faidahnya bagi mereka dengan demikian mereka tidak perlu susah –susah mempelajari apa arti dari ayat itu, karena arti maksud dari ayayt itu sudah cukup jelas dan gambling
b.      Memudahkan manusia mengetahgui arti dan maksudnya, juga memudahkan mereka dalam menghayati makana maksudnya agar mudah melaksanakan ajaran-ajaranya.
c.       Mendorong umat untuk giat memahami ,menghayati dan mengamalkan isi kandungan al-qr’an karena lafadz ayat-ayatnya sudh di ketahui n, gampang di fahami dan jelas pula untuk di amalkan
d.      Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat, dalam mempelajari isi ajaranya, karena lafadz ayat-ayat dengan  sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menunggu penafsiran atau penjelasan dari lafadz ayat surat yang lain.
e.       Memperlancar usaha penafsira atau penjelasan maksud kandungan ayat-ayat al-qur’an.
Para mufasir tidak usah susah-susah lebih dahulu mencari takwilan makna kata-katanya karena semua arti kata-katanya jelas terang, danm gambling, sehingga usaha-usaha penafsiran lebih cepat tercapai maksudnya.
2.      Hikmah Ayat Mutasyabihat
a.    Adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-qur’an membawa hikmah dan faidan yang banyak juga bahakan lebih banyak dari hikmah muhkamat. Rohmat Allah SWT , sebab sifat dan Allah SWT itu di tam,pakkan kepada manusia yang lemah karena itu Allah SWT ,menyamarkan sifat dan dzatnya, dalam ayat-ayat mutasyabihat itu adalah jelas merupakan rohmat Allah SWT yang besar bagi manusia.
b.    Kalau tidak ada ayat dan mutasyabih  tentu umat islam hanya ada dalam satu madzhab tetapi dengan adanya ayat mutasyabih maka masing-masing menganut mdzhab akan mendapat dalil yang menguatkan pendapatnya dengan usaha terus menerus mengali seperti itu akhirnya ayat-ayat muhkamat menjadi penafsir ayat-ayat mutasyabihat.[4]
c.    Menambah pahala usaha umat manusia dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat sebab semakin sukar pekerjaan orang maka akan semakin besar pahalanya.
d.   Mendorong mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam, sebab, adanya ayat-ayat mutasanihat dalam al-qur’an mendorong orang-orang yang akan mempelajarinya harus terlebih dahulu mempelajari berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan berbagai isi ajaran al-quran yang bermacam-macam, seperti ilmu bahasa, kimia fisika,biologi dan sebagainya.

D.      ANALISA ULAMA TENTANG MUHKAMAH DAN MUTASYABIHAH
Pendapat ulama’ tentang kemuhkaman dan kemutasyabihatan al-qur’an
1.      Al-qur’an  semuanya muhkam sebab susunan lapadz al-quran dan keindahan nadzomnya sungguh sangat sempurna, tak sedikitput terdapat kelemahan padanya, baik dalam segi lafadznya atau maknanya, seperti yang di sebutkan dalam al-Qur’an.[5]
1.       !9# 4 ë=»tGÏ. ôMyJÅ3ômé& ¼çmçG»tƒ#uä §NèO ôMn=Å_Áèù `ÏB ÷bà$©! AÅ3ym AŽÎ7yz ÇÊÈ  
Artinya: Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci[707], yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,
[707] Maksudnya: diperinci atas beberapa macam, ada yang mengenai ketauhidan, hukum, kisah, akhlak, ilmu pengetahuan, janji dan peringatan dan lain-lain.

2.      Al-qur’an adalah semuanya jika kita kehendaki dengan kemutasyabihnya ialah kemutamasilan (serupa atau sebanding) ayat-ayatnya, baik dalam bidang balaghah maupun dalam bidan i’jaz dan kesulitan kita menampakkan kesulitan kelebihan sebagian sukunya atau yang lain, seperti di sebutkan dalam al-qur’an.
ª!$# tA¨tR z`|¡ômr& Ï]ƒÏptø:$# $Y6»tGÏ. $YgÎ6»t±tFB uÎT$sW¨B Ïèt±ø)s? çm÷ZÏB ßŠqè=ã_ tûïÏ%©!$# šcöqt±øƒs öNåk®5u§NèO ßû,Î#s? öNèdߊqè=ã_ öNßgç/qè=è%ur 4n<Î) Ìø.ÏŒ «!$# 4 y7ÏsŒ yèd «!$# Ïöku ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o 4 `tBur È@Î=ôÒリ!$# $yJsù ¼çms9 ô`ÏB >Š$yd ÇËÌÈ  
Artinya: Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
[1312] Maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa Maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah

3.      Bahwa al-qur’an itu isinya ada 2 yaitu muhkam dan mutasyabih seperti yang tercantum dalam al-qur’an surat al-imron ayat-7.[6]
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øtC £`èd Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur×M»ygÎ7»t±tFãB ( $¨Br'sù tûïÏ%©!$# Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷ƒy tbqãèÎ6®KuŠsù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB uä!$tóÏGö/$#ÏpuZ÷GÏÿø9$# uä!$tóÏGö/$#ur ¾Ï&Î#ƒÍrù's? 3 $tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqãź§9$#ur ÎûÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã $uZÎn/u 3 $tBur ã©.¤tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$#ÇÐÈ  
Artinya:  Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
[184] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.[7]
Sikap para ulama’ teradap ayat-ayat yang mutasyabih
1.      Kebanyakan para ulama’ berpendapat bahwa hanya Allah sendirilah yang mengetahui takwil dari ayat-ayat mutasyabihat mereka berdasarkan firman Allah surat al-imron ayat 7
2.      Sebagian ulama’ berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabih bisa di ketahui artinya dan harus mengetahuinya sebab al-qur’an adalah hudan linnas, menurut Abu Ishab Az-Zirasi bahwa” tidak ada satu ayat Al-qur’an punya ng tidak ada artinya.
Abu Hasan Al-Asyari berpendapat bahwa yang di maksuk ayat” warrosikhuna fil ilmi” dalam surat Al-imron disini adalah orang yang rasih itu bisa mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabihat.
Ar-rogib al-asfahani mengambil jalan tengah dalam mengahadapi masalah ini. Beliau membagi metasyabih dari segi kemungkin mengetahui maknanya kepada tiga bagian:
a.       Bagian yang tak ada jalan mengetahui, seperti waktu terjadi kiamat, keluarnya binatang dari bumi dan lain sebagainya.
b.      Bagian manusia menemukan sebab-sebab mengetahuinya, seperti lafadz-lafadz yang ganjil sulit di fahami kemudian bisa di temukan artinya.
c.       Bagian yang terletak antara dua urusan itu yang hanya di ketahui oleh sebagian ulama’  yang tinggi ilmunya saja. Inilah yang di isyaratkan oleh nabi dengan sabdanya kepada ibnu abbas” Allahumma faqqihhum fiddini waallamahutta’wila
Artinya: wahai tuhanku jadikanlah dia seorang yang fikih dalam agama dan ajarkanlah ta’wil kepadanya.
Sebagaimana dalam masalah fawatikhus-suwari, kita ketemukan berbagai takwil yang di berikan para ulama’, semua pendapat para ulama’ berkisar sekitar hikmah wujudnya (fawatikhus-suwar), bukan sekitar hakikat-hakikatnya, maka dalam ketidak mampuanya manusia tidak menemukan hakikat-hakikat itu, menunjukkah akan kelemahan manusia. Dan kalau kita berbicara masalah dzat dan sifat Allah jelas tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya dan masalah ini oleh jumhur ulama’ dan ahli sunnah dan bahkan ahli ro’yu hanya sekedar mengimani adanya saja dan urusanya di serahkan kepada Allah SWT.
Para ulama’ dalam menanggapi sifat-sifat yang mutasyabihat dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Pada m,asa hidupnya imam malikada seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang makna istawa’ beliau menjawab,
Al-istiwau ma’lumun wal kaifu majhuulun watasaulu anhu bidatun waadunnuka rojula suuin ukhrujuuhu anni:
Artinya: Istiwa’ itu maklum sedangkan kaif itu majhul dan menanyakan hal itu termasuk bidah , aku menyangka bahwa engkau adalah termasuk orang buruk keluarkanlah dia dari majlisku.
Madzhab kholaf, yaitu: mepertanggungkan (mentakwilkan) lafadz yang mustahil dzahirnya kepada makna yang layak demngan zat Allah jadi jelaslah ulama’ salaf mensucikan Allah dari kenyataan kenyataan yang mustahil dan mengimani apa yang di terangkan al-qr’an serta menyrahkan urusan hakikatnya kepada Allah sendiri.
Ulama’ kholaf berusaha mencari arti ayat yang mengandung sifat-sifat Allah dengan arti yang ada qorinah nya.
E.       CONTOH AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT
a.       Contoh ayat muhkamat
Contoh ayat yang muhkamat ialah seperti ayat-ayat tentang perintah Allah Dialah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak sebuah perkongsian. Surat an-Nisa ', Ayat 34.
Menurut para ulama, ayat muhkamat itu pada umumnya adalah ayat-ayat yang sudah dinasakh, seperti halal, haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Hal ini cukup sejalan dengan pendapat Ali ibnu Abi Thalhah, yang menyatakan bahwa ciri-ciri dari ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang membatalkan ayat-ayat lain, ayat yang menghalalkan, ayat-ayat yang mengharamkan, ayat yang berisi ketentuan, ayat yang mengandung kewajiban, ayat-ayat yang harus di-imani dan diamalkan.
Menurut Ibnu Abbas di dalam Tafsir Al-Manar, ayat muhkamat itu terkait dengan sepuluh perintah Allah yang dijelaskan dalam surah Al-An’am. Sedangkan selain sepuluh perintah Allah itu, maka ayat-ayat lainnya tergolong ayat mutasyabihat. Adapun di antara sepuluh perintah Allah di maksud, misalnya Dia memerintahkan untuk memakan hewan yang disembelih atas nama-Nya (Al-An’am ayat 118), larangan untuk memakan harta anak yatim (Al-An’am ayat 152) dan lain sebagainya.
b.      Contoh ayat mutasyabih
Adapun ayat-ayat yang oleh para ahli di pandang secara mutasyabihat antara lain tentnag semayamnya Allah SWT(20:5), wajah Allah SWT (28:88), (55:27), tentang mata Allah SWT (28:29), tangan Allah SWT(48:10), tangan kanan Allah SWT(39;67). Dll
Terhadap ayat-ayat tersebut di atas ulama’ salaf menyucikan Allah SWT dari kenyataan kenyatan yang mustahil ini dan mengimani yang di terangkan Al-qur’an serta menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Sedangakan ulama’ kholaf member ma’na istiwa’ (20:05), dengan ketinggian maknawi yaiotu mengendalikan ala mini tampa merasa payah, mereka menggantikan wajah Allah(28:88), (55:27), dengan dzat Allah. Mereka mengartikan mata Allah(20:29), dengan pengawasan Allah, dan mereka mengartikan tangan Allah(48:10), dan (39:67), dengan kekuasaan Allah SWT.[8]
Dalam konteks fawatih as-suwar tersebut, Imam Nawawi berusaha menafsirkan huruf pembuka surah dengan mengaitkannya kepada nama Allah. Misalnya, Alif Lam Mim ditafsirkan dengan Ana Allah a’lam (Akulah Tuhan yang Maha Tahu). Alif Lam Raâ ditafsirkan dengan Ana Allah Ara (Akulah Tuhan yang Maha Melihat). Alif Lam Raâ dan Ha Mim merupakan ejaan ar-rahman yang dipisahkan. Dalam mengomentari huruf Kaf Ya Ha âAin Shad, ia berkata: Kafsebagai lambang Karim (Pemurah), HaHadin (Pemberi Petunjuk), Yaâ berarti Hakim (Bijaksana), âAin berarti âAlim(Maha Mengetahui), dan Shad berarti Shadiq (Yang Mahabenar).[10] berarti
Menurut Sayyid al-Quthub, huruf-huruf itu mengingatkan pada sebuah kenyataan bahwa al-Qur’an disusun dari huruf-huruf yang lazim dikenal bangsa Arab, yaitu tujuan al-Qur’an pertama kali diturunkan. Dalam pandanganya, misteri dan kekuatan huruf-huruf itu terletak pada kenyataan bahwa meskipun huruf-huruf itu terletak begitu lazim dan sangat dikenal, manusia tidak akan dapat menciptakan gaya dan diksi yang sama dengannya untuk membuat kitab seperti al-Qur’an.
Pendapat lain seperti Ibn Katsir, Ath-Thabari dan Rasyid Ridha menyatakan bahwa huruf-huruf tersebut berfungsi sebagai tanbih atau peringatan. Dalam hal ini, Rasyid Ridha berargumentasi bahwa letak keindahan pembicara adalah ketika menyandarkan perhatian pendengarnya agar mereka mampu untuk menangkap serta mampu menguasai hal-hal yang dibicarakannya.
Berkaitan dengan pendapat itu, Jalaluddin As-Suyuthi mengatakan bahwa al-Qur’an tidak menggunakan kata-kata peringatan (tanbihat) yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti ala dan ama karena keduanya termasuk lafal-lafal yang biasa dipakai dalam percakapan, sedangkan al-Qur’an merupakan kalam Allah karenanya menggunakanalif sebagai kata peringatannya yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan bagi pendengarnya.
Dalam tradisi sufi, rahasia-rahasia huruf itu dijelaskan dengan perspektif esoterik-simbolik. Ibnu Arabi dianggap sebagai pelopor dalam hal ini. Arabi menjelaskan bahwa alif adalah nama esensi Ilahi, yang menunjukkan bahwa Allah SWT merupakan yang pertama dari segala eksistensi, sedangkan lam terbentuk dari dua alif, dan keduanya dikandung oleh mim. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa setiap nama adalah referensi untuk hakikat (esensi), yaitu yang mengandung satu atau beberapa sifat yang lain (atribut). Oleh karena itu, mim merupakan referensi terhadap tindakan Nabi Muhammad. Selain itu, Ibnu Arabi juga menjelaskan bahwa alif adalah simbol sifat dan tindakan-tindakan Nabi Muhammad, maka lam yang mengantarkan alif dan mim merupakan simbol nama malaikat Jibril.[9]
F.     MACAM-MACAM AYAT MUTASYABIHAT
Menurut al-Asfahani, ayat-ayat mutasyabihat dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: Pertama, ayat atau lafadz yang sama sekali tidak dapat diketahui artinya secara hakiki, seperti saat tibanya hari kiamat, kalimat daabbatul-ardhi (sejenis binatang yang akan muncul menjelang kehancuran alam semesta). Hal ini seperti terdapat dalam surah An-Naml ayat 82:
Artinya: Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Kedua, ayat mutasyabihat yang dengan berbagai sarana manusia dapat mengetahui maknanya, seperti lafadz yang aneh dan hukum yang tertutup. Ketiga, ayat-ayat mutasyabihat yang khusus hanya dapat diketahui maknanya oleh orang yang mendalam ilmunya dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang selain mereka, yaitu sebagaimana yang diisyaratkan oleh doa Rasulullah bagi Ibnu Abbas: Ya Allah, karuniakanlah ia ilmu yang mendalam mengenai agama dan limpahkanlah pengetahuan tentang ta’wil kepadanya..
Jalan tengah yang diambil oleh Al-Asfahani di atas menunjukkan kearifannya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para ulama salaf dengan muta’akhirin, tanpa harus menyalahkan atau membenarkan pendapat di antara keduanya.
Dalam teori pengalaman ini, pembahasannya diarahkan kepada ayat yang dinasakh atau mansukh.




BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
a.       Menurut istilah, para ulama’ berbeda-beda pemahaman dalam memberikan pengertian tentang muhkamah dan mutasyabih.
Ulama’ golongan ahlussunah waljama’ah mengatakan muhkama adalah lafadz yang dim ketahui lafadz maknanya, atau makna maksudnya, baik memang karena sudah jelas artinya atau dengan karena di takwilkan, sedangkan lafadz mutasyabih adalah lafadz yang pengetahuan artinya hanya di monopoli Allah SWT manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya, contohnya terjadinya hari kiamat, keluarnya dajjal.
Ulama’ golongan hanafiyah mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang jelas petunjuknya dan tidak mungkin telah di nasyakh (dihapuskan hukumnya)sedang lafadz mutasyabih adalah lafadz  yang sama maksud dan tujuanya, sehingga tidak terjangkau oileh akal fikiranmanusia, ataupun tudak tercantumdalam dalil-dalil nash sebab blafadz mutasyabih itu termasuk hal-hal yang di ketahui AllahSWT sajacontohnya seperti hal-hal yang gaib.
b.      Secara tegas dapat dikatakan bahwa sebab adanya ayat muhkamah dan mutasyabihan itu karena Allah menjadikanya demikian itu, Allah membedakan dan memisahkan ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih, dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat, seperti firman yang artinya: dialah yang telah menurunkan al-kitab kepada kamu, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamt dan ada ayat-ayat yang mutasyabihat (Al-imron: 7)
Dari ayat itu jelaslah bahwa Allah menurunkan ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabihat, tetapi belum jelas apa sebab-sebab turunya ayat-ayat tersebut.
c.       Hikmah ayat muhkamat dan Mutasyabihat
Adanya ayat-ayat muhkamat dalam kitab al-qr’an jelas ada hikmahnya bagi umat manusia sebagai berikut:
-          Menjadi rahmat bagi manusia khususnya yang kemampuan bhs arabnya lemah dengan adannya ya ayat-ayat muhkamt yang sudah jelas arti maksudnya sangat besar arti dan faidahnya bagi mereka dengan demikian mereka tidak perlu susah –susah mempelajari apa arti dari ayat itu, karena arti maksud dari ayayt itu sudah cukup jelas dan gamblang
-          Adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-qur’an membawa hikmah dan faidan yang banyak juga bahakan lebih banyak dari hikmah muhkamat. Rohmat Allah SWT , sebab sifat dan Allah SWT itu di tam,pakkan kepada manusia yang lemah karena itu Allah SWT ,menyamarkan sifat dan dzatnya, dalam ayat-ayat mutasyabihat itu adalah jelas merupakan rohmat Allah SWT yang besar bagi manusia.
-          Kalau tidak ada ayat dan mutasyabih  tentu umat islam hanya ada dalam satu madzhab tetapi dengan adanya ayat mutasyabih maka masing-masing menganut mdzhab akan mendapat dalil yang menguatkan pendapatnya dengan usaha terus menerus mengali seperti itu akhirnya ayat-ayat muhkamat menjadi penafsir ayat-ayat mutasyabihat
d.      Pendapat ulama’ tentang kemuhkaman dan kemutasyabihatan al-qur’an
Al-qur’an  semuanya mhkam sebab susunan lapadz al-quran dan keindahan nadzomnya sungauh sangat sempurna, tak sedikitput terdapat kelemahan padanya, baik dalam segi lafadznya atau maknanya, hal ini telah di terangkan sendiri oleh al-qur’an.  
Al-qur’an adalah semuanya jika kita kehendaki dengan kemutasyabihnya ialah kemutamasilan (serupa atau sebanding) ayat-ayatnya, baik dalam bidang balaghah maupun dalam bidan i’jaz dan kesulitan kita menampakkan kesulitan kelebihan sebagian sukunya atau yang lain hal ini telah di landaskan ayat al-qur’an.
e.       Contoh ayat muhkamat dan mutasyabihat
Contoh ayat yang muhkamat ialah seperti ayat-ayat tentang perintah Allah Dialah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak sebuah perkongsian. Surat an-Nisa ', Ayat 34.
Adapun ayat-ayat yang oleh para ahli di pandang secara mutasyabihat antara lain tentnag semayamnya Allah SWT(20:5), wajah Allah SWT (28:88), (55:27), tentang mata Allah SWT (28:29), tangan Allah SWT(48:10), tangan kanan Allah SWT(39;67). Dll
f.       Jalan tengah yang diambil oleh Al-Asfahani di atas menunjukkan kearifannya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para ulama salaf dengan muta’akhirin, tanpa harus menyalahkan atau membenarkan pendapat di antara keduanya.

DAFTAR PUSTAKA

·         Hadi, abd,” Pengantar Study Ilmu-Ilmu Al-Qur’an”,graha pustaka islamic multimedia:surabaya,2010
·         KHlil al-Qattan,manna, “study ilmu-ilmu al-qur’an”litera antarnusa:Jakarta, 2009
·         Djalal,Abd, “ulumul-qur’an”,dunia ilmu:Surabaya, 2008
·         Hamzah, muchotob, “Study Al-Qur’an Komprehensif”gema media:Surabaya,2003
·         Channah, Liliek,”study alqur’an”Surabaya,2010


http://latahzanallahslalu.blogspot.com/p/makalah-study-al-quran.html





                                                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar